Memaknai Kata “Hamba”

Allah menguji seorang hamba dengan hidup yang sangat lekat dengan masalah. Salah satu esensi dari ujian tersebut adalah menyadarkan seseorang akan statusnya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala; yakni sebagai hamba dihadapkan Rab (Tuhan) yang berhak melakukan apapun yang diinginkan-Nya, layaknya seorang budak di hadapan tuannya.

Kesadaran ini dimunculkan bukan untuk mencetuskan prasangka buruk bahwa Allah subhanahu wa ta’ala bertindak sewenang-wenang pada hamba-Nya, namun untuk menanamkan ke dalam hati manusia tentang makna penyerahan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala secara sempurna. Hal ini sangat fundamental, karena ketika seseorang menjalani kehidupannya, terkhusus ketika dirundung masalah, yang mampu mengantarkannya pada sikap penerimaan yang baik hanyalah kesadaran akan keterbudakannya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Sikap penerimaan yang baik yang dimaksud adalah kemampuan untuk tetap berprasangka baik kepada-Nya dengan cara bersabar, ridho, bahkan bersyukur atas setiap kondisi yang dihadapi.

Sebagai tambahan, kata “Islam” sendiri, disamping bermakna “damai” juga bermakna “penyerahan diri”. Dua makna ini, seperti penjelasan dr. Zakir Naik hafizhahullah, mengisyaratkan bahwa seseorang hanya akan dapat memperoleh kedamaian hidup apabila berserah diri kepada Allah.

Figur yang sangat patut diteladani dalam konsep ini adalah khalilullah (kekasih Allah subhanahu wata’ala) Ibrahim ‘alaihissalam yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk Allah subhanahu wata’ala. Sangat gamblang dalam kisah-kisahnya yang masyhur bagaimana beliau ‘alaihissalam menerima sepenuh hati “dikte” ketetapan Allah subhanahu wata’ala atas dirinya. Beliau ‘alaihissalam pernah diminta meninggalkan bayi dan istrinya, Ismail dan Hajar ‘alaihimassalam, di lembah tandus di padang berbatu. Kemudian setelah Ismail ‘alaihissalam tumbuh dewasa, Allah subhanahu wata’ala malah memerintahkan Ibrahim ‘alaihissalam lewat mimpi untuk menyembelih anak kesayangannya tersebut. Itu adalah dua di antara sejumlah perintah atas Ibrahim ‘alaihissalam yang secara manusiawi kebanyakannya tidak masuk di akal dan tidak berterima di perasaan. Namun, atas taufiq Allah subhanahu wata’ala, beliau ‘alaihissalam memenuhi seluruh “dikte” tersebut dengan tunduk dan patuh yang tidak bercacat. Beliau ‘alaihissalam tidak menggerutu terhadap takdir, tidak terbersit kekecewaan pada siapa pun, dan sama sekali tidak bernegosiasi dengan Allah subhanahu wata’ala.

Dengan itulah Allah subhanahu wata’ala mengagungkan beliau ‘alaihissalam pada kitab-kitab nabi yang datang setelahnya, bahkan hingga detik ini melalui shalawat ibrahimiyyah yang disyariatkan atas milyaran umat Islam pada tasyahud akhir shalat mereka. Allahu Akbar!

Quran merekam sanjungan Allah subhanahu wa ta’ala atas beliau ‘alaihissalam:

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia (sebagai khalil, imam, dan rasul) dan dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (berserah dirilah)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh (berserah diri) kepada Tuhan semesta alam.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita taufiq dan mengaruniakan kita hati yang tunduk patuh dalam upaya untuk berserah diri kepada-Nya. (aa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *