Hati-Hati ! Bukan Toleransi Agama

Tak terasa, waktu terus berjalan dan mengantarkan kita pada penghujung tahun 2016 Masehi. Bulan Desember sebagai bulan yang mengakhirinya “last month” telah menghampiri kita kembali di tahun ini.

Sebenarnya, tak ada yang istimewa dari bulan Desember ini. Terlebih lagi kita sebagai umat muslim. Karena tahun umat muslim mengikuti kalender Hijriah. Hanya saja, melihat banyaknya umat muslim yang turut mengistimewakan penghujung tahun ini, membuat kita sebagai orang-orang yang berada dalam lingkup pendidikan perlu mengkaji dan menganalisa kembali sebelum bertindak dan melakukan sesuatu. Salah satunya dalam masalah ini. Kita perlu untuk mengilmui dahulu segala apa yang akan kita lakukan, agar bukan hanya sekedar ikut-ikutan dan akhirnya membawa kerugian dan menghantarkan kita pada kebodohan.

Allah Subhanahu wata’ala, berfirman:

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (Terj. QS. Az-Zumar: 9)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (Terj. QS. Al-Isra’ : 36)

Seperti bulan-bulan desember sebelumnya, selalu kita saksikan jika mendekati penghujung tahun, seluruh dunia mulai sibuk mempersiapkan segala pernak pernik kebutuhan perayaan Tahun baru dan Natal. Tak terkecuali Indonesia. Walaupun jumlah kaum non-muslim minoritas dan kaum muslimin yang lebih mendominasi namun sepertinya pernak-pernik tersebut terlihat lebih mendominasi di berbagai titik-titik perbelanjaan seperti kembang api, pohon natal, terompet, dan bahkan di jalan-jalan mulai terpampang spanduk dan baliho acara perayaan Tahun Baru Masehi yang biasa disebut Acara malam puncak Tahun baru. Ya Begitulah kenyataanya, walaupun agama diluar Islam jauh lebih sedikit dari jumlah umat Islam di Indonesia, namun acara malam puncak tahun baru terlihat sangat besar dan ramai. Karena kaum muslimin sendiri pun larut dalam acara tersebut.

“Memangnya apa masalahnya jika umat Islam turut merayakan ?

Indonesia memang negara yang memilih menggunakan kalender Masehi sebagai kalender nasionalnya.  Bahkan banyak umat Islam yang tidak tahu dengan penanggalan Islam yakni penanggalan Hijriah. Itu dikarenakan, sistem negara yang menggunakan penanggalan masehi di segala aspek, termasuk pendidikan.

Dari mana sebenarnya penanggalan Masehi itu berasal ? Kalender masehi dihitung sejak kelahiran Yesus dari Nazaret. Sebelumnya bangsa Roma menggunakan penanggalan tradisional Romawi, kemudian Julius Caesar memutuskan untuk menggantinya. Penanggalan Masehi dibuat dengan mengikuti revolusi matahari. Sedangkan perayaan tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tahun baru Masehi mulai berlaku di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap kepada seluruh rakyat Hindia Belanda. Dalam sejarah disebutkan bahwa kalender Hijriah berlaku di Nusantara sejak masuknya Islam di Indonesia. Jadi secara kultural bangsa kita pun, tahun baru Masehi tak perlu di rayakan.

Kalender yang digunakan dalam penanggalan Islam adalah kalender Hijriah (at-taqwim al-hijri) yang ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Penanggalan Hijriah didasarkan atas revolusi bulan. Penanggalan ini ditetapkan oleh Khalifah kedua yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  pada tahun 638 M (17 H). Hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam. Namun, hal ini tidak menjadikan landasan bagi umat Islam untuk juga merayakan tahun barunya. Karena seperti hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut, bahwa hari raya umat Islam itu hanya dua:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad).

“Bukankah Islam mengajarkan toleransi dalam beragama ?” atau perkataan “kami hanya ingin menyenangkan hati teman kami yang merayakannya, tidak ada maksud dan tujuan lain”.

Toleransi memang menggambarkan suatu keadaan yang baik, sikap toleransi dibutuhkan oleh semua agama, begitu pula dengan Islam. Dengan adanya toleransi, hak dan kewajiban seseorang terhadap agamanya dapat dijalankan dengan baik. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam pun selalu memberi contoh yang baik dalam hal toleransi.

Sahabat Abdullah bin ‘Amr Radiyallahu anhu pada suatu hari menyembelih seekor kambing. Lalu ia berkata, “Apakah kalian sudah memberikan hadiah (daging sembelihan) kepada tetanggaku yang beragama Yahudi? Karena aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menduga beliau akan menjadikannya termasuk orang yang berhak menerima warisan.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Namun, bagaimana seharusnya kita bertoleransi? Pengertian toleran dalam KBBI berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Bertoleransi berarti memberikan ruang, memberikan kebebasan kepada orang lain untuk menjalankan keyakinan agamanya, dan bukan ikut-ikutan di dalamnya.

Jika kita mengikutinya berarti kita tidak berbeda pandangan dengannya. Artinya kita setuju dengan mereka, menerima agama mereka, dan mengakui keyakinan mereka. Kita harus mampu membedakan antara bersikap baik dalam hal ini toleransi dan bersikap loyal (wala’) kepada orang kafir. Mengikuti perayaannya masuk dalam kategori loyal terhadap mereka.

“Kami tidak ikut merayakannya, hanya mengucapkan selamat saja”

Inilah salah satu persoalan penting yang perlu kita tahu saudaraku… ucapan selamat selamat Tahun baru atau hari perayaan suatu begitu mudah kita ucapkan. Bahkan seakan tak memberi makna yang berarti bagi umat Islam yang mengucapkannya. Akan tetapi  mengucapkan selamat memiliki arti memberikan penghargaan dan ke-ridhoan kepada apa yang mereka kerjakan.

Dalam keyakinan islam, kita meyakini bahwa seseorang yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia tergolong kepada orang-orang kafir. Padahal sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk berlepas diri dari segala bentuk kekafiran. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

…“Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Terj. QS. Al Mumtahanah: 4).

Selain itu, Tak ada agama lain yang haq dimuka bumi ini setelah diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selain Islam dan ini wajib diyakini oleh setiap muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah agama Islam.” (Terj. QS. Ali Imran: 19). Rasulullah shalallahu’alaihin wasallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Tiadalah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu ia mati, sedangkan ia belum beriman kepada agama yang aku diutus dengannya, melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim).

Olehnya itu, bagi seorang muslim terlarang mengucapkan selamat atas hari raya agama lain, ataupun perayaan  tahun baru, sebab ini menunjukkan keridhoan terhadap keyakinan mereka.

“Bagaimana dengan orang yang mencari penghasilan dari perayaan Tahun baru atau Hari Raya Keagamaan Agama lain ?”

Menjual pernak-pernik natal dan tahun baru, seperti terompet, kembang api, hiasan pohon natal, makanan dan sebagainya baik dimalam puncak ataupun sebelumnya, sama artinya dengan mendukung perayaannya. Termasuk pula turut mengenakan kostum natal dan tahun baru mereka. Hal ini harus kita hindari, karena ini berhubungan dengan masalah akidah.

Sikap yang tepat bagi seorang muslim adalah berlepas diri dari segala bentuk partisipasi dalam rangka memeriahkan hari raya agama lain atau tradisi yang spesifik untuk agama lain. Maksudnya adalah kita tidak berpartisipasi untuk hari raya agama lain namun juga tidak mengusik dan mengganggu hari raya mereka.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya tertanggal 01 Jumadil Ula 1401 H/07 Maret 1981 M memutuskan pada poin kedua: Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram.

Saudaraku, kita di anjurkan untuk bertoleransi dan berbuat baik kepada orang kafir dan bukan loyal kepada mereka.

Wallahu a’lam bish shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *