Skala Prioritas dalam Menuntut Ilmu

Di antara hal yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah skala prioritas ilmu yang dipelajari. Segala sesuatu harus ditata dengan baik agar bisa terlaksana secara maksimal dalam kesempatan singkat yang dikaruniakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Mengingat bahwa ilmu adalah salah satu hal terpenting dalam kehidupan seorang mukmin, maka menuntut ilmu menyaratkan perhatian khusus dalam pelaksaannya. Kita harus memastikan, ilmu yang dipelajari selama kita hidup bisa menyelamatkan kita setelah kematian. Firman Allah yang artinya, “Maka siapa yang dipalingkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung (Terj. Ali ‘Imran:  185)”, itulah target seorang mukmin dalam menuntut ilmu.

Merujuk ke hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (HR. Ibnu Majah),” kita mengetahui bahwa menuntut ilmu hukumnya fardu ‘ain. Akan tetapi, kata “ilmu” dalam hadits ini banyak disalahpahami; dimaknai secara umum yaitu “kumpulan pengetahuan”. Padahal, ketika kita merujuk kepada para ulama, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, misalnya, kita memahami bahwa ilmu yang dimaksudkan wajib untuk dipelajari terbatas pada ilmu syari saja. Beliau menjelaskan bahwa ilmu adalah Kitab (Quran) yang berbicara, sunnah yang berlaku, dan perkataan para sahabat. Hal yang serupa diutarakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah; Ilmu adalah Quran, sunnah, dan perkataan “saya tidak tahu.” Berangkat dari hal ini, kita bisa membagi ilmu menjadi 2 kelompok besar: ilmu syari yang sifatnya fardhu ‘ain, yang akan menjadi fokus pembahasan, dan ilmu selainnya yang hukumnya terbentang mulai dari fardhu kifayah hingga mubah.

Orang yang faqih bukanlah mereka yang bisa membedakan antara yang halal dan yang haram, tetapi mereka yang mampu memilih mana yang terbaik di antara dua kebaikan, demikian makna ungkapan ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Karena itu, ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain pun perlu dirincikan dengan baik sebelum dijabarkan ke dalam tabel skala prioritas seorang penuntut ilmu.

Salah satu metode untuk mencapai hal ini adalah dengan memperhatikan tuntutan syariat atas seorang muallaf. Kita membayangkan ada seseorang yang baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal pertama yang perlu dia pelajari adalah taharah; mandi wajid dan wudhu, mengingat bahwa dia harus segera mengerjakan kewajiban pertamanya: mendirikan shalat. Setelah mengilmui hal tersebut, anggaplah tiba waktu Ramadhan, maka wajib baginya untuk belajar tentang puasa dan zakat. Selama Ramadhan, menjalani kehidupan sebagai anggota masyarakat menuntutnya untuk memiliki penghasilan. Jika dia menjadi seorang pedagang, maka dia wajib belajar tentang transaksi jual beli dan hal mendasar lainnya mengenai pasar. “Jangan berjualan di pasar kami, orang yang tidak paham tentang ilmu agama!” makna atsar dari Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Demikian pula jika dia menjadi seorang karyawan perusahaan, petani, PNS, wirasuahawan atau yang semisalnya.  Dia kemudian dikaruniakan Allah rezki sehingga menjadi keharusan baginya untuk melaksanakan haji. Demikian seterusnya hingga pada akhirnya dia menjadi mukmin yang berkapasitas sehingga diangkat menjadi seorang pemimpin, atau tiba panggilan jihad, maka hal tersebut harus diilmuinya sebelum dilaksanakan. Ilmu (harus ada) sebelum berkata dan berbuat, kata Imam Bukhari dalam kitabnya.

Jika diperhatikan, akan tergambar pola yang sangat jelas bahwa urutan ilmu yang dipejari harus sesuai dengan urgensi hal tersebut; mulai dari rukun Islam, rukun iman, rangkaian ibadah yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain: shalat, zakat, puasa, dan sejenisnya, dan ilmu-ilmu lain yang menjadi syarat kesempurnaan hal-hal wajib yang lainnya seperti membaca al-Quran dengan baik dan benar. Dalam kaidah disebutkan bahwa sesuatu yang dengannya suatu kewajiban menjadi sempurna hukumnya wajib. Setelah mempelajari hal-hal yang wajib tersebut, jika seseorang juga ingin memplejari ilmu yang sifatnya mubah, seperti sastra dan yang sejenisnya, maka boleh saja, selama porsinya tidak sampai berlebihan sehingga mengganggu kewajiban yang ada. Begitu seterusnya sesuai dengan tingkatan dan hukumnya.

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang mukmin. Karena, jika setan tidak bisa membuatnya futur (berhenti) menuntut ilmu, maka dia akan berusaha untuk mengacaukan urutan ilmu yang dia pelajari atau membuatnya sibuk dengan ilmu yang tidak penting dan tidak mendesak sehingga lalai dari ilmu yang penting dan mendesak. Maka tidak heran, ada di antara orang yang belum selesai membaca kitab tauhid tapi sudah khatam kitab fiqih nikah, belum benar tajwidnya tapi gemar berdiskusi soal ketatanegaraan, belum benar wudhunya tapi sangat suka berdebat di sosial media perihal dunia internasional, Allahu al-musta’an.

Semoga Allah merahmati berupa kefakihan dalam agama dan senantiasa menunukkan kepada kita yang terbaik di antara kebaikan yang ada. (aa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *