Semangat dan Keikhlasan dalam Beramal

Satu hal yang penting kita pelajari dari para Ulama Salaf adalah mereka adalah semangat mereka untuk berlomba-lomba dalam beramal dan perasaan khawatir mereka yang besar terhadap diterima atau tidaknya amalan mereka. Kita selaku orang yang beriman tentunya juga harus memiliki sifat seperti ini. Kita selaku Hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala sama sekali tidak punya hak untuk menentukan dan mengetahui apakah amalan yang kita amalkan selama ini diterima. Hanya Allah satu-satunya dzat yang memiliki hak untuk menerima amalan seorang hamba.

Perkara niat dan keikhlasan itu adalah sesuatu yang tidak tampak. Yang tahu ikhlasnya atau tidaknya seorang hamba dalam beribadah hanyalah seorang hamba itu sendiri dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka perlu sekiranya kita banyak belajar dari para Ulama Salaf. Mereka adalah orang adalah orang-orang yang benar-benar memperhatikan kualitas amalan mereka.Mereka tidak hanya memperhatikan banyak tidaknya amalan mereka, tapi mereka juga menaruh perhatian besar pada kualitas amalan mereka terutama dalam perkara niat. Ibnu Diinar pernah mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.” Jika kita ingin melihat bagaimana kadar keimanan kita kepada Allah, maka lihatlah keinginan kita untuk senantiasa dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perlu diketahui yang menjadi washilah pendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah amalan-amalan kita sendiri terutama amalan-amalan yang wajibkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita. Maka perlulah sekiranya kita selaku hamba memberikan perhatian pada washilah-washilah ini. Jangankan amalan-amalan wajib, amalan-amalan Sunnah (yang tidak diwajibkan) pun semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akan tetapi, walaupun amalan-amalan itu beragam dan amatlah banyak, namun kita tidak memperhatikan sisi kualitas amalan tersebut, maka ini adalah kerugian yang besar. Orang yang khusyu’ dalam sholatnya dan orang yang tidak khusyu’ jelas berbeda.

Orang yang sholat diawal waktu sholat jelas berbeda dari orang yang sholat di akhir waktu. Orang yang memiliki kualitas amal yang baik, ia tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi ia juga mendapatkan cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semakin kita mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala, maka semakin besar cinta yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan kepada kita. Dan Ketika Allah benar-benar cinta kepada hambanya, maka Allah akan menjadi tangannya, Allah akan menjadi penglihatannya dan Allah akan menjadi pendengarannya dengan kata lain seorang hamba itu akan benar-benar terhindar dari maksiat.

Allah Subhanahu Wa ta’ala menciptakan mati dan hidup dengan tujuan untuk menguji siapakah diantara hamba-hambanya yang paling ahsan amalannya. Ahsan dalam hal ini berarti selain karena amalan itu berlandaskan atas keikhlasan, amalan itu juga harus ittiba‘ atau sesuai dengan apa yang diperintahkan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sesungguhnya amalan jika dilakukan dengan ikhlas tetapi ia tidak benar maka ia tidak diterima dan begitupun sebaliknya.

Selain keikhlasan yang harus dijaga oleh seorang Muslim, perkata yang lain yang perlu kita menaruh perhatian besar padanya adalah menjaga sikap zuhud dan wara‘. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam bagaimanakah cara mendapatkan cinta Allah dan cinta sesama manusia?
Maka beliau menjawab “Zuhudlah kamu kepada apa yang didunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah kamu kepada manusia maka mereka akan mencintaimu.”

Fudhail bin Iyadh dulunya terkenal sebagai seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu warda dan Sirjis. Awal mulanya beliau pernah terpikat seorang wanita. Suatu malalm beliau menyelinap ke rumah wanita tersebut, ketika beliau memanjat tembok, tiba-tiba saja beliau mendengar seserang membaca ayat
“Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna meningat Alah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq” (Terj. QS Al Hadid 16)
Tatkala mendengarnya beliau gemetar dan berkata, “Tentu saja wahai rabb ku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat)”. 

Beliau pun turun ke reruntuhan bangunan, tempat beliau tinggal. Tiba-tiba saja sekelompok orang yang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus!” dan sebagian yang lain berkata,”Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Fudhail menghadang kita di jalan ini,” fudhail menceritakan ”Kemudian aku merenung dan bergumam.”Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubat itu denga tinggal di Baitul Haram”.
Ayat itulah yang menyadarkan seorang Fudhail bin Iyadah dari kelalaian yang panjang. Hingga akhirya beliau menjadi ulama senior di kalangan tabi’in, sekaligus dikenal sebagi ahli ibadah yang zuhud.

Dari kisah kezuhudan Fudhail bin Iyadh itu kita seharusnya paham agar kita tidak merasa diri kita ini lebih suci dari orang lain boleh jadi orang bertato yang kita temui ketika saat shalat adalah orang yang memiliki keutamaan lebih dibandingkan dengan diri kita.

Selain itu, beberapa nasehat yang patut kita hayati dari Para ulama adalah “sekiranya kita ini ingin berhasil dalam berdakwah, maka sembelihlah keinginan-keinginan kita untuk terkenal dan rasa takut kita kepada selain
Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Selama kita memiliki keinginan untuk menjadi terkenal dan memiliki rasa takut yang lebih besar kepada selain Allah maka sungguh kita tidak akan bisa berhasil dalam berdakwah.

Sebagai penutup tulisan ini, kami juga berpesan agar janganlah kita menganggap enteng suatu dosa. Ingatlah bahwa dilaknatnya Iblis tidak lain karena ia melakukan satu dosa saja, yakni tidak mau bersujud kepada Adam Alaihis Salam. Dan dikeluarkannya Nabi Adam Alaihis Salam dari surga juga tidak lain karena satu dosa, yakni memakan buah khuldi. Maka janganlah kita sekali-kali mempermainkan sifat maha pemaaf dan penerima taubat-Nya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Janganlah kita terjerumus kedalam dosa dengan entengnya mengatakan Allah kan maha pengampun dan penerima taubat, maka setelah ini saya akan bertaubat. Ketahuilah kita tidak pernah tahu apakah taubat kita itu diterima atau tidak.

Ingatlah bahwa sesungguhnya seorang mukmin membayangkan dosa-dosanya seperti duduk di kaki gunung dan ia takut tertimpa olehnya. Sedangkan seorang yang pendosa menganggap dosanya seperti lalat yang hinggap dihidungnya lalu dikibasnya (HR Tirmidzi)

Sumber: Rangkuman Kajian Rutin Selasa “Tazkiyatun Nafs”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *