Seminar Islam Nasional – Menemukan Makna Islam di Bumi Nusantara

tmp_8419-IMG-20151115-WA00011301116419Semakin berkembangnya Umat Islam semakin banyak pula tantangan yang dihadapinya sehingga memunculkan perpecahan diantara Umat Islam itu sendiri. Berbagai paham pemikiran yang menyudutkan Islam sehingga hal ini sangat penting untuk diatasi, berdasarkan latar belakang tersebut UKM LDK MPM UNHAS mengadakan SEMINAR ISLAM NASIONAL guna meluruskan pemahaman antara umat Islam itu sendiri. Mari hadirkan diri di Seminar ini untuk membuka cakrawala kita semua.


Setelah kasus pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa pada acara Maulid Nabi S.A.W. Publik mulai dihebohkan dengan isltilah baru yaitu Islam Nusantara. Istilah ini justru semakin populer seiring dengan adanya pernyataan kontroversial dari ketua PBNU, Said Aqil Siradj yang menggembor-gemborkan kontras antara Islam Nusantara dan Islam Arab dengan menyatakan bahwa “Islam Nusantara adalah adalah islam dengan cara pendekatan budaya, didakwahkan dengan merangkul budaya, melestarikan budaya, tidak menggunakan doktrin yang kaku dan keras seperti Islam Arab”. Hal ini jelas menimbulkan kebingungan di tengah-tengah ummat Islam. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu ditelusuri dibalik pengenalan istilah Islam Nusantara ini.

Sebenarnya apakah yang mendasari istilah Islam Nusantara ini?
Bagaimanakah konsep sebenarnya dari istilah Islam Nusantara?
Siapa pihak yang diuntungkan dari pengenalan istilah ini?
dan apa tujuan dibalik pengenalan islam Nusantara ini?
Benarkah Islam Nusantara adalah Islam yang orientasinya kedamaian dan toleransi?

Latar belakang istilah ”Islam Nusantara”

Meskipun istilah Islam Nusantara ini awalnya dikenalkan melalui acara Maulid di Mesjid Istiqlal dan dipopulerkan oleh Said Aqil Siradj, sebenarnya jauh sebelum peristiwa ini konsep dan pengistilahan Islam Nusantara sudah lama diperbincangkan. Perlu diketahui bahwa satu hal yang melatarbelakangi hal ini adalah gerakan theosofi dan liberalisme. Menurut Dr. Tiar Anwar Bactiar, para tokoh Islam Liberal ini mulai menemukan gagasan Islam Nusantara setelah mereka mempelajari sosiologi agama yang dikaji oleh para Orientalis yang mempelajari Kristen. Lantas, apa hubungannya dengan istilah Islam Nusantara?

Perlu diketahui bahwa, ajaran Islam dan ajaran Kristen itu jelas berbeda. dalam ajaran Kristen, ajaran agama boleh-boleh saja terinfusi dengan sistem kebudayaan yang telah melekat dan mengikat dalam suatu masyarakat misalnya bahasa yang digunakan oleh masyarakat lokal. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa ajaran Kristen bisa di-pribumisasikan. Buktinya, kita masih bisa mendapati Kitab Injil di berbagai toko buku dengan berbagai bahasa. Ada Injil yang berbahasa Inggris, ada yang menggunakan bahasa Indonesia dan beragam bahasa yang lainnya. Sehingga, antara Kristen yang berkembang di Indonesia akan jauh berbeda dengan Kristen yang berkembang di Jerman.

Mulai dari titik inilah para tokoh Islam Liberal berusaha melakukan hal yang sama dengan ajaran Islam, yakni pribumisasi ajaran agama.

Konsep Absurd Islam Nusantara

Diantara banyaknya tokoh kiyai, akademisi dan bahkan Presiden pun turut serta dalam menjelaskan Islam Nusantara, satu pun dari mereka tidak dapat memberikan definisi pasti dan jelas mengenai istilah Islam Nusantara. Bahkan cara mereka mendefinisikan terbilang absurd dan dapat menimbulkan beragam interpretasi. Sehingga, semua orang dapat mendefinisikan istilah Islam Nusantara sebebas-bebasnya begitupun dengan istilah Islam Arab. Seperti yang dikatakan oleh Siradj, Islam Nusantara adalah Islam yang merangkul budaya, melestarikan budaya dan menghormati budaya. Secara implisit hal ini menunjukkan bahwa agamalah yang harus tunduk terhadap budaya atau budayalah yang dijadikan landasan dalam ber-Islam. Ini adalah definisi yang sama sekali tidak relevan. Bahkan dalam mendefinisikan Islam Nusantara, Said Aqil Siradj seolah-olah berpikir bahwa segala elemen-elemen kebudayaan itu bisa sejalan dengan ajaran Agama Islam. Akan tetapi, benarkah seperti itu? Benarkah Islam selamanya bisa merangkul segala aspek kebudayaan?

Salah satu tradisi dan budaya masyarakat jawa yang masih eksis sampai sekarang adalah ritual-ritual yang mengkultuskan Nyi Roro Kidul dari Pantai Selatan pada bulan-bulan tertentu. Ironisnya, bahkan banyak diantara mereka mengaku Muslim yang turut serta berpartisipasi dalam ritual seperti ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini adalah sebuah bentuk kesyirikan yang merupakan dosa terberat dalam pandangan Islam. Maka dengan menggunakan definisi Islam Nusantara versi Said Aqil Siradj, maka apakah Islam perlu merangkul budaya paganisme (berhala) seperti ini? Haruskah Islam tunduk menunjukkan rasa hormat pada budaya ini? Atau perlukah budaya paganisme ini di-islamisasikan? Tentu kedua hal yang sangat kontradiktif ini tidak dapat terintegrasi maupun terinfusi satu sama lain. Bahkan, definisi Islam Nusantara seperti diatas bukanlah ajaran Islam itu sendiri yang cenderung menjadi konsep yang dipaksakan.

Frasa “merangkul budaya” versi Said Aqil Siradj juga terkesan membingungkan. Apakah yang dimaksud adalah baca Al-Qur’an dengan irama dandanggula? Sholat mengenakan sarung bukan gamis? Memakai kopiah bukan sorban? Memiliki nama-nama lokal seperti Paijo, Baso, Joko bukan nama-nama Arab seperti Ikhwan, Rezki, Hasyim atau apa?

Perlu diketahui bahwa, adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa ajaran Islam itu mustahil jika dipisahkan dengan hal-hal yang berbau Arab bahkan secara kultur sekalipun. Sehingga, penggunaan istilah Islam Nusantara itu memang adalah sebuah hal yang dipaksakan dan tidak berpedoman pada Islam itu sendiri. Al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab dan sampai akhir zaman pun keotentikan bahasa arabnya Al-Qur’an pun akan tetap terjaga.

Meskipun demikian, Islam yang didakwahkan itu tidak mewujud pada budaya yang dinamis, tetapi ia mewujud pada teks wahyu yang abadi dan otentik, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Dakwah Islam itu bukanlah untuk memelihara keaslian budaya, akan tetapi dakwah Islam itu semata-mata untuk menyuarakan kebenaran yang datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dampak Boomingnya Istilah Islam Nusantara terhadap Ummat Islam Indonesia?

Islam Nusantara yang digembor-gemborkan dengan ekspektasi harmonisasi ini justru semakin memperkeruh keadaan Ummat Islam di Indonesia dan mempertajam perpecahan terutama dari kalangan NU dengan mereka yang dilabeli Wahabi yang pada dasarnya sama-sama bermanhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Kini kaum muslimin yang dilabeli Wahabi mulai dicaci maki dan dituduh sebagai penganut Islam Arab yang anti-budaya, yang berperangai keras dan kasar, yang tidak toleran, dan sebagainya. Namun, sadarkah Ummat Islam bahwa mereka sedang di adu domba dengan alat “Islam Nusantara”?

Jika pertentangan kedua kaum tradisionalis seperti NU dan kaum modernis seperti Muhammadiyah, Persis, PKS, Salafy dan sebagainya berhasil diprovokasi, maka tentu kekuatan Ummat ini akan melemah. Dan ditengah kelemahan itu sangat jelas akan ada pihak yang diuntungkan.

Maka siapakah pihak-pihak yang diuntungkan dari pertikaian Ummat Islam ini?

Tidak lain dan tidak bukan, adalah para pengusung ide-ide Islam Liberal dan orang-orang Syi’ah. Merekalah pihak-pihak yang menciptakan istilah Islam Nusantara dan Islam Arab. Mereka sengaja menggembor-gemborkan istilah Islam Nusantara sambil meneriakkan semboyan toleran, humanis, sopan-santun, lemah-lembut agar mendapatkan dukungan dari segala pihak bahkan dari pihak non-muslim sekalipun. Dengan itu, mereka berupaya untuk menerapkan strategi belah bambu: menginjak yang satu dan mengangkat yang lain. Mereka berusaha mengangkat istilah Islam Nusantara dengan semboyan toleran, humanis, sopan-santun, lemah-lembut dan sebagainya. Sehingga, mereka yang dicap Wahabi yang menentang ide Islam Nusantara dan ideologi Syiah secara tidak langsung diidentikkan dengan penganut Islam yang tidak toleran, yang senang kekerasan, yang tidak tahu sopan-santun dan hal-hal negatif yang lainnya. Mereka berusaha menciptakan citra buruk bagi orang-orang yang dicap Wahabi.

Padahal, faktanya, mereka yang mengaku penganut Islam Nusantara yang katanya cinta damai dalam menyebarkan ajarannya justru dengan cara yang tidak etis. Kebanyakan mereka mencaci maki dengan menyebut-nyebut Wahabi, Teroris, Ekstrimis, Semakin Panjang Jenggotnya Semakin Goblok, dan jargon-jargon negatif lainnya. Maka, patut dipertanyakan benarkah mereka yang mengaku penganut Islam Nusantara ini cinta damai dan tidak suka menimbulkan benih-benih konflik?

Bagaimana Ummat Islam dalam menyikapi persoalan ini?

Sebagai respon terhadap isu ini, Ummat islam patut mengevaluasi kembali gerak dan langkah mereka dalam berdakwah. Masing-masing harus menahan diri untuk tidak saling menyerang dan terlalu membesar-besarkan perkara furu’iyyah yang memang sangat senang dijadikan bahan pembicaraan kalangan awam. Selain itu, kedua belah pihak, baik NU maupun Wahabi harus lebih banyak melakukan dialog dan komunikasi dalam rangka membangun Ukhuwwah Islamiyah sehingga perkara-perkara cabang tidak mudah dimanfaatkan orang lain untuk memperkeruh kerukunan di antara umat beragama.

Pedoman kita dalam ber-Islam bukanlah lidah-lidah pengusung Islam Liberal maupun orang-orang Syi’ah yang menginginkan perpecahan dikalangan Ummat Islam. Akan tetapi, yang harus kita jadikan sebagai pedoman dan pemersatu ummat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. (Afdal, red.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *