Teologi Santan Ala Kebatinan

Selasa, 10 November 2015, saya sangat bersyukur sebab untuk pertama kalinya saya mendapat pemaparan yang cukup lengkap tentang kebatinan, atau lebih tepatnya aliran kebatinan. Adalah Ustadz Susiyanto, M.P.I pakar darmogandul dan naskah kuno Jawa, yang menjelaskannya dalam suatu diskusi ringan bersama kawan-kawan di Ma’had ‘Aly Imam Al-Ghazali Surakarta, binaan Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo. Saya sudah pernah mendengar perihal kebatinan ini. Awalnnya saya mengira kebatinan hanyalah sebuah upaya mendekatkan diri kepada tuhan dengan memanfaatkan olah batin yang menyimpang dari agama. Padahal memang seperti itu, tetapi diluar dugaan saya sebelumnya, ternyata saat ini kebatinan sudah menjadi agama sendiri. Dengan kata lain, penganut kebatinan sesungguhnya tidak lagi menisbatkan diri pada Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau agama pun, melainkan kebatinan itu sendiri sudah menjadi agama. Jika seorang penganut kebatinan mengaku menganut suatu agama yang dikenal masyarakat, itu sekedar agama KTP saja.

Pembahasan tentang kebatinan menjadi semakin menarik sebab ada sekelompok orang yang mengklaim bahwa kebatinan inilah agama ‘asli’ rakyat Indonesia. Menurut mereka, Islam, Kristen, Hindu, Budha, semuanya agama pendatang, agama asing. Islam dari Arab, Kristen dari barat, Hindu dan Budha dari India. Adapun kebatinan, asli produk lokal, made in Indonesia. Karena itu, kebatinan-lah yang paling layak diakui pemerintah sebagai agama resmi negara, atau paling tidak diakui sebagai salah satu agama resmi, berdampingan dengan agama-agama lainnya.

Atas dasar keyakinan ‘agama asli’ ini, pada tahun 1978 mereka mendesak pemerintah untuk mengakui kebatinan sebagai salah satu agama resmi. Sekalipun tidak satu agama, tokoh-tokoh Kristen mendukung usaha mereka. Adapun umat Islam menolak dengan tegas.

Umat kebatinan menyatakan bahwa konstitusi kita masih memberi ruang pada agama mereka. Yaitu pada pasal 29 tentang agama. Pada ayat dua disebutkan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” “Kepercayaan” pada ayat ini mereka tafsirkan sebagai peluang bagi kebatinan untuk diterima sebagai agama.

Klaim ini dibantah umat Islam. “Kepercayaan” dalam ayat itu tidak dapat ditafsirkan semena-mena sebab ia dalam pasal agama. Sedang agama yang diakui di Indonesia hanya lima. Jadi, ‘kepercayaan’ yang dimaksud dalam ayat itu tidak lain adalah agama yang lima itu sendiri. Gagal pada tahun 1978, sampai sekarang umat kebatinan tidak pernah lagi mendesak pemerintah mengakui agama mereka.

Dari Theosofie

Ustadz Susiyanto menjelaskan bahwa sesungguhnya kebatinan yang berkembang di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh theosofie. Jauh sebelumnya, Prof. H.M. Rasjidi telah mengkategorikan kebatinan Jawa merupakan bagian dari theosofi. Ini ditunjukkan dengan istilah-istilah theosofi yang cenderung pada kebatinan seperti ‘kehidupan batin’, ‘sang guru batin’.

Thesofie merupakan suatu aliran keyakinan yang pertama kali berkembang di Amerika. Secara bahasa, theo artinya tuhan, sofie artinya kebijaksanaan. Jadi theosofie adalah kebijaksanaan tuhan.

Dalam prakteknya, para penganut theosofie meyakini bahwa agama mereka mengajarkan agar setiap manusia senantiasa suci hatinya. Dengan hati yang suci, maka manusia selalu dapat terhubung kepada tuhannya. Jika hati sudah sampai kepada tuhan, maka itulah puncak penyembahan.

Theosofie tidak membeda-bedakan agama. Semua manusia dengan berbagai latar belakang agama dapat menjadi theosof. Di dalam theosof inilah, menurut mereka, segala kebaikan dari semua agama disarikan, diramu, diracik, lalu digabung menjadi satu. Maka barang siapa yang menjadi theosof yang baik, maka sudah pasti ia penganut agama yang baik, sekalipun ia tidak mempelajari agama. Sebabnya ialah ia sudah mendapat kebaikan dari semua agama! Jadi anak-anak theosof tidak perlu dididik dengan didikan agama. Cukup theosofi saja!

Diantara  ritual theosofie ialah spiritisme, yaitu upacara pemanggilan roh. Seorang dukun bertindak sebagai pemimpin upacara. Satu orang mendapat amanah sebagai medium roh. Lima orang mengelilingi medium roh ini. Setelah semuanya menempati posisi masing-masing, mulailah sang dukun membaca jampi-jampi. Jika berhasil, roh yang dipanggil merasuk ke si medium. Saat itulah dukun melakukan dialog dengan roh.

Konon, Buya HAMKA pernah secara tidak sengaja mengikuti ritual theosofi. Buya menantang agar pimpinan ritual memanggil roh Nabi Muhammad. Mereka tidak mampu. Katanya, roh yang akan dipanggil ini terlalu kuat(?)

Theosofi pertama kali diperkenalkan oleh dua orang Yahudi Freemason; Helena Petrovna Blavatsky dan Kolonel Olcott. Pada awal pertumbuhannya, theosofi mendapat pengikut di Amerika. Namun akhirnya dibenci oleh rakyat Amerika lantaran ritual mereka sendiri.

Suatu ketika, seorang penganut theosofi berpesan kepada anaknya agar jika mati kelak, jasadnya dibakar, dikremasi seperti mayat Hindu. Saat meninggal, mayatnya pun dikremasi. Publik Amerika berang. Pembakaran mayat saat itu masih hal yang tabu bagi mereka. Peristiwa pembakaran mayat ini sontak menghiasi koran-koran Amerika. Satu per satu pengikut theosofi menarik diri. Sampai akhirnya pengikutnya habis. Yang tersisa tinggal duo pendiri.

Ditinggal pengikut di Amerika, Helena dan Olcott melawat ke India. Di India, mereka diterima. Ritual-ritual theosofi mereka rancang sedemikian rupa agar sesuai dengan budaya setempat. Dari India, mereka bertolak ke Indonesia.

Dari Jakarta, selanjutnya theosofi berkembang di Bandung. Salah satu peninggalan theosofi di Bandung yang masih dapat ditemukan pada hari ini ialah Gedung Sate. Awalnya gedung ini merupakan tempat pertemuan para petinggi theosofi.

Sukses di Bandung, mereka mencoba mengajarkan theosofi ke pusat-pusat umat Islam. Mereka masuk ke Pekalongan, kota santri. Di sini lagi-lagi mereka menyesuaikan diri dengan masyarakat. Mereka mengaku sebagai pengikut salah satu aliran tasawuf.

Setelah dari Pekalongan, mereka berupaya memasuki pusat-pusat peradaban Jawa sebab dipandangnya Jawa sebagai potret lain dari India. Mereka masuk ke Cirebon, Yogyakarta, dan Solo, tiga kota keraton Jawa. Dari tiga kota ini, theosofi mendapat pengikut terbanyak di kota Solo.

Para theosof pernah merintangi pencetakan terjemahan Al-Qur’an 30 juz yang ditulis oleh Kyai Bagus Narfah, seorang Kyai keraton. Theosof memprovokasi rakyat bahwa Kyai Bagus telah mengubah Al-Qur’an. Mereka menyatakan, Al-Qur’an yang berbahasa Arab, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Menerjemahkan Al-Qur’an sama saja mengubah Al-Qur’an. Akhirnya terjemahan Al-Qur’an Kyai Bagus hanya dapat dicetak beberapa jilid saja. Itu pun jumlahnya sangat terbatas.

Menyusup Kebatinan

Dalam perkembangannya theosofi menyusup ke kebatinan Jawa yang diikuti oleh priyayi keraton. Penyusupan ini pernah dilakukan oleh Dirk van Hinloopen Libberton, seorang theosof Belanda. Dirk mengajarkan bahwa agama hanyalah perkara batin, bukan perkara lahir. Yang esensi dari agama adalah hatinya, niatnya, bukan syariahnya. Bahkan menurutnya, syariah justru dapat menimbulkan bibit-bibit kejahatan. Untuk memantapkan usahanya menginfiltrasi kebatinan Jawa, Dirk mempelajari kitab Wirid Hidayat Jati, kitab kebatinan Jawa.

Ajaran kebatinan dapat berkembang dengan baik di kalangan masyarakat Muslim yang awam. Dengan adanya ajaran kebatinan, mereka merasa telah mendapat ajaran agama yang sesungguhnya, yang benar-benar mendekatkan diri pada tuhan. Tidak perlu berpayah-payah sujud dan ruku’, tidak butuh berlelah-lelah menghafal Ayat Al-Qur’an dan hadist, tetapi dapat menyatu dengan tuhan. Alangkah ni’matnya. Pada tingkat tertentu, seorang penganut kebatinan tidak lagi beribadah kepada Allah sebagaimana ibadah yang dipahami Islam seperti, shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Dengan kata lain, setiap penganut kebatinan telah membebaskan dirinya dari syariat agama.

Suatu ketika, Ustadz Susiyanto mengunjungi seorang mbah tokoh kebatinan. Sang Mbah memaparkan prinsip-prinsip kebatinan seperti yang telah kita ulas di atas. Kata mbah, “Agama-agama itu semuanya baik. Seperti kelapa. Kelapa memang beda-beda. Ada kelapa gading, kelapa puyuh, kelapa ijo, jika diperas jadi santan, santannya kan sama putih. Sama-sama santan. Jika dicampur pun tetap akan jadi santan. Nah seperti itulah kebatinan, sari-sari baik dari semua agama.”

Menanggapi Mbah yang sudah sepuh ini, Ust. Susiyanto hanya berkata, “Mbah soal santan itu, masalahnya bukan pada kelapanya, tapi pada yang memerasnya. Bagaimana kalau yang memeras itu kudisan? Bagaimana kalau yang memeras itu bersin-bersin? Apa Mbah masih mau makan?”

Ust. Susi menyungging senyum penuh kemenangan


Penulis : Wahyudi Husain – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Angk. 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *