Bergelimang Darah Berkuah Air Mata

Jika kita menggali sejarah bangsa kita sendiri, akan bertemulah kita dengan Bapak-bapak kita yang tak kurang untuk kita resapi ilmunya. Sesungguhnya mereka, tidak kurang tegas aqidahnya, kuat ibadahnya, lapang dadanya, tulus hatinya, dan memukau akhlaknya. Merekalah uswah bidang-bidang hidup yang dapat disebut. Merekalah uswah dalam kesederhanaan dan kelapangan. Mereka pula uswah dalam indahnya tutur kata dan luhurnya budi pekerti. Mereka juga uswah dalam hidup berbangsa bernegara.

Kita hari ini, jika ingin mencari contoh terbaik dari segala sesuatu, terlalu jauh kita mencari. Kita arungi samudera raya. Melintas batas-batas negeri. Sementara kampung sendiri, belum lagi habis digali.

Sebutlah misalnya Bapak Mohamad Natsir. Selamilah pemikiran beliau dalam Capita Selecta, dalam buku-bukunya, dalam pidato-pidatonya. Sebut juga Buya Hamka. Betapa indah beliau merangkai kata. Lantang ia berpidato, lembut ia menasehati. Jika memang tidak perlu menyebut-nyebut rekan-rekannya sezaman, seperti Prawoto Mangkusasmito, Muhammad Isa Anshory, Kahar Muzakkir, Kasman Singodimedjo, niscaya mereka cukup jua.

Tentu bukan maksud kita untuk membandingkan mereka dengan Rasulullah dan para sahabatnya. Mengangkat mereka setinggi-tingginya di atas generasi salaf Islam. Bukanlah maksud kita demikian. Sebab mereka juga tidak mencontoh selain kepada Rasulullah dan para sahabatnya belaka. Akan tetapi maksud kita menggali sejarah mereka ialah sebagai wujud penghargaan atas anugerah Allah yang ia cucurkan kepada kita. Betapa tidak, sekalipun segala daya upaya telah penjajah kerahkan untuk memperbudak kita, mereka halangi pendidikan kita, mereka pisahkan bangsa kita dari ulamanya, nyatanya lahir juga ulama-ulama sekaliber Bapak-Bapak kita itu. Ulama-ulama dari negeri kita sendiri. Alangkah bangganya.

Dengan mendalami sejarah mereka, menyelami aneka pemikiran mereka, dapatlah kita memahami pahit getir dan suka duka perjuangan mereka di kala itu. Hingga kita, anak-anak yang lahir di belakang ini, semakin mantap hati menyebut nama-nama mereka tatkala mendo’a kepada ilahi di tengah malam sunyi. Moga-moga diampunkan segala khilaf dan lalai. Moga-moga beroleh kedudukan tertinggi di sisi-Nya.

Janganlah kita lupa, bahwa tatkala mereka menumpah asa di majelis Konstituante, itu terutama adalah untuk kita, anak cucu di belakang ini, bukan untuk mereka semata.

“…kita bermaksud dengan sekuat mungkin menciptakan satu undang-undang dasar yang akan tahan uji oleh generasi anak cucu yang akan datang”. (Mohammad Natsir)

“Meskipun di majelis ini saudara ingkari perjuangan kami, kami percaya bahwa di rumah saudara sudah mulai berpikir. Saudara sudah lama kehilangan. Kami bawa barang yang hilang itu kembali ke hadapan saudara, tetapi ada sesuatu yang masih menghalangi saudara buat mengambilnya.

Saya belum tahu saudara ketua, entah bagaimana akhir keputusan yang akan kita ambil kelak. Entah kami akan disuruh pulang dengan tangan kosong, entah pancasila akan dipertahankan dengan kekerasan, karena tidak ada jalan lain dan Islam ditolak mentah-mentah. Karena dinding yang dipasang orang lain tadi masih tebal. Namun satu perkara tidaklah pernah lepas dari hati saya yaitu:

Walaupun bagaimana kerasnya tolakan atas perjuangan kami yang benar, adil, dan logis ini, semua yang menolak itu adalah saudara kami. Semuanya adalah bangsa kami, kawan setanah air, yang telah pernah menghadapi suka-duka sejarah selama 12 tahun. Sama bergelimang darah, sama berkuah air mata.” (Buya Hamka)

Kutulis dengan berlinang air mata, Rabu, 4 November 2015

Penulis – Wahyudi Husain (Fakultas Ekonomi, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *