Ketika Lesbian Gay Bisexual dan Transgender Dibangga-banggakan

Sekarang ini, mengkritisi persoalan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) itu seolah-olah selalu diidentikkan dengan mengkritisi perbedaan antara ras kulit hitam dan ras kulit putih yang pada dasarnya wajar-wajar saja perbedaannya. Sampai-sampai mereka yang saling suka dengan sesama jenis, baik itu gay atau lesbian, dengan entengnya membela diri mereka dengan mengatakan “Memang sudah begini Tuhan menciptakan saya” tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.

Sekiranya ada orang yang sangat terbiasa dan sangat ketagihan melakukan tindak kriminal seperti membunuh atau memiliki kebiasaan beastiality (kecenderungan untuk berhubungna seks dengan binatang) maka sebagai bentuk pembelaan, apakah ia berhak mengatakan “Memang sudah begini Tuhan menciptakan saya” ?

1000 orang pun yang mengatakan hal tersebut maka patut dipertanyakan akal sehatnya. Sebab, tidak akan ada orang yang secara ikhlas mau mendukung tindak kriminal dan memalukan seperti itu. Sayangnya, perspektif dan mind set kebanyakan orang yang dibentuk oleh latar kebudayaan sekarang ini, umumnya, sependapat bahwa segala sesuatu yang tidak akan meresahkan orang lain, maka hal tersebut tidak layak untuk dianggap sebagai tindak kriminal dan menyimpang sebagaimana perilaku homosexual, lesbian, bisexual dan transgender sebab perilaku-perilaku tersebut ‘sama sekali’ tidak mengganggu kepentingan orang lain secara langsung atau hanya kepentingan individual semata. Sehingga, perilaku homoseksual, lesbian dan sejenisnya dianggap sah-sah saja. Padahal, secara jelas ini adalah tindak kriminal dan dosa terhadap Tuhan.  

Segala sesuatu yang disebut sebagai hasrat manusia tentu sangatlah berpotensi untuk membahayakan. Karena itulah agama Islam ini ada, agar menjadi koridor yang membatasi hasrat-hasrat manusia yang menyimpang dan tidak melampaui fitrahnya sebagai manusia. Bagi seekor ikan, hidup di air memang sudah menjadi fitrahnya dan bagaimanapun luar biasanya ia tidak akan pernah mampu bertahan hidup di luar air bahkan di atas piring emas yang mewah sekalipun karena itulah kehendak Tuhan. Begitupun Manusia, ia tidak akan pernah mampu melawan fitrahnya atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Ketika seseorang laki-laki menikahi seorang laki-laki maka bagaimana pun usahanya ia tidak akan pernah memiliki keturunan. Sebab, fitrah seorang laki-laki adalah memiliki ketertarikan terhadap seorang perempuan dan meneruskan keturunan melalui pernikahan yang dihalalkan.

Mereka yang mengaku tertarik sesama jenis pada hakikatnya berusaha membela diri mereka dengan dalih ketertarikan sesama jenis itu sudah menjadi fitrah mereka. Secara tidak langsung, pembelaan ini mengimplikasikan bahwa agar hasrat homoseksual dan lesbian itu dipandang legal oleh masyarakat, maka hasrat itu perlu di-fitrah-kan seolah-olah menjadi homo dan lesbian itu adalah sesuatu yang wajar-wajar saja. Tak jarang, kaum homo dan kaum lesbi selalu membela dengan perkataan “Saya kan terlahir di dunia ini sebagai homosexual/ lesbian/ transgender/ bisexual”.

Maka inti permasalahan dari persoalan ini yang perlu dibahas adalah Apakah perilaku homosexual dan lesbian ini merupakan perilaku yang “Natural” (alami)  atau “Nurtured” (dibiasakan) ?

Para aktivis gender dalam menyebarkan dukungannya terhadap eksistensi kaum homo dan lesbian selalu beralasan atas adanya “Gay Gene” yang diakui sebagai bukti “ilmiah” hasil penelitian yang menyatakan semua laki-laki yang lahir di dunia ini berpotensi untuk memiliki gen yang mempengaruhi perilaku mereka sehingga mereka menjadi tertarik dengan sesama jenis dan orang yang terlahir dengan “Gay Gene” itu memang sudah permanen ke-homo-annya dan orientasi seksualnya sudah tidak bisa diubah. Ilmuan-ilmuan seperti Brad Harrub, Ph.D., Bert Thompson, Ph.D., dan Dave Miller, Ph.D. dalam penelitiannya yang berjudul “This is the Way God Made Me” A Scientific Examination of Homosexuality and the “Gay Gene” (Seperti inilah Tuhan menciptakan saya, sebuah pengujian ilmiah terhadap homosexualitas dan Gay Gene) menyatakan bahwa:  

“if an alleged “gay gene” did exist, the homosexual population eventually would disappear altogether.  We now know that it is not scientifically accurate to refer to a “gay gene” as the causative agent in homosexuality. The available evidence clearly establishes that no such gene has been identified.  Additionally, evidence exists which documents that homosexuals can change their sexual orientation.  Future decisions regarding policies about, and/or treatment of, homosexuals should reflect this knowledge.”  

(Jika sekiranya gen gay itu memang ada, maka jumlah populasi kaum gay sebenarnya akan punah sama sekali. Kita sekarang paham bahwa ini tidaklah akurat secara ilmiah untuk menjadikan Gay Gene sebagai penyebab homosexualitas. Bukti yang ada secara jelas menegaskan bahwa tidak ada gen seperti itu yang teridentifikasi. Terlebih lagi, ada bukti lain yang mendokumentasikan bahwa orang-orang yang homo sebenarnya bisa mengganti orientasi sexual mereka. Keputusan di masa depan terhadap kebijakan mengenai pengobatan atau perawatan terhadap kaum gay seharusnya mencerminkan pengetahuan ini.)              

Adapun jika ada bukti ilmiah lain yang diajukan oleh aktivis gender dan perilaku menyimpang seksual ini, maka hal itu kemungkinan besar adalah hoax (kebohongan belaka) dan sebaiknya kita bersikap skeptis sebagaimana ,buktinya, pada penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Michael LacCour (Sarjana UNCLA dalam ilmu politik) dan Prof. Donald Green (Guru Besar Columbia University) yang diterbitkan di dalam Majalah ternama, Science Magazine dan sempat mengambil simpati para aktivis LGBT di seluruh dunia. Sebagai reaksi dari penerbitan itu, beberapa ilmuan-ilmuan yang melanjutkan riset lebih dalam terhadap hasil penelitian LacCour seperti Broockman dan Josh Kalla justru menemukan ketidakberaturannya hasil penelitian LacCour yang tercatat sebanyak 27 halaman dan sempat diungkap oleh media-media populer barat seperti New York Magazine dan The Guardian dengan artikel yang berjudul:

– “The Case of the Amazing Gay-Marriage Data: How a Graduate Student Reluctantly Uncovered a Huge Scientific Fraud”  (Kasus dari data luar biasa pernikahan gay: Bagaimana seorang sarjana menutup-nutupi penipuan ilmiah) dan  – “Study of attitudes to same-sex marriage retracted over ‘fake data'” (Studi mengenai sikap terhadap pernikahan sejenis, ditarik karena data palsu)

” Broockman, along with his friend and fellow UC Berkeley graduate student Josh Kalla and Yale University political scientist Peter Aronow, released an explosive 27-page report recounting many “irregularities” in LaCour and Green’s paper. “Irregularities” is diplomatic phrasing; what the trio found was that there’s no evidence LaCour ever actually collaborated with uSamp, the survey firm he claimed to have worked with to produce his data, and that he most likely didn’t commission any surveys whatsoever. Instead, he took a preexisting dataset, pawned it off as his own, and faked the persuasion “effects” of the canvassing. It’s the sort of brazen data fraud you just don’t see that often, especially in a journal like Science. “

Artikel-artikel tersebut secara jelas membuktikan bahwa adanya unsur-unsur subjektif dan direncanakan pada penelitian yang dilakukan oleh Michael LacCour dimana percakapannya melalui informan-informan tentang derita kehidupan ketika seseorang menjadi gay tersebut seolah-olah mampu melunakkan hati meneteskan air mata orang-orang anti terhadap pernikahan sesama jenis.

Sangat jelaslah bahwa klaim kaum gay dan lesbian yang menyatakan “Memang sudah begini Tuhan menciptakan saya” itu hanyalah bentuk pembenaran yang dinilai fatal kesalahannya baik itu dari sisi ilmiahnya maupun sisi logikanya. Sudah sepatutnya manusia itu kembali kepada fitrahnya. Se-homo-homo-nya atau Se-lesbi-lesbi-nya seseorang dan segigih-gigihnya perjuangan aktivis gender untuk mendukung LGBT, pada dasarnya, hati nurani mereka tetap mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu memang sesuatu yang salah.

Mengapa?  

Karena Tuhan itu tidak menciptakan manusia untuk bertindak seperti binatang bodoh yang hedonistik. Tetapi, Tuhan itu menciptakan manusia untuk tujuan yang jauh lebih mulia.   Dan tujuan mulia itu adalah untuk mengenal-Nya dan menyembah-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman di dalam Q.S Ad-Dzariyat 51:56; 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Perlu diketahui, perilaku gay, lesbian dan sejenisnya itu adalah dosa besar dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah mendatangkan kemuliaan bagi pelaku LGBT melainkan hal ini akan mendatangkan laknat bagi pelakunya maupun yang menjadi objeknya termasuk aktivis pendukungnya sebagaimana kaum Nabi Luth A.S yang diberi azab oleh Allah baik itu di dunia maupun di akhirat karena ingkar terhadap larangan pernikahan sesama jenis yang diperintahkan oleh Nabi Luth A.S. Legalnya pernikahan sesama jenis yang disahkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat 27 pada Juni 2015 memang merupakan sesuatu yang ironis. Manusia seolah-olah kembali ke zaman Nabi Luth A.S. yang kaumnya diazab oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan azab yang amat pedih. Hal itu seolah-olah menjadi kemenangan bagi para aktivis gender. Pawai dengan simbol pelangi yang identik dengan eksistensi perkawinan sejenis kini dideklarasikan dimana-mana dengan penuh kebanggaan dan haru.

Padahal, Allah berfirman di dalam QS. Hud: 82

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

Artinya: Tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. 

Semoga saja Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkenan untuk memberi mereka hidayah dan bertaubat serta kembali menjadi manusia bermartabat dan sesuai dengan fitrahnya.

Wallahu A’lam

Semoga bermanfaat

Penulis – Muhammad Afdal (Fakultas Ilmu Budaya, 2013) 

Departemen Pengembangan dan Media Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *