Kritik atas Paham “Teosofi” Part 1

“Tak boleh ada agama yang merasa benar. Kebenaran agama adalah relatif, tidak boleh ada yang memutlakkan. Karena itu, sikap eksklusif dalam beragama disebut akan menimbulkan sektarian dan menyimpan benih-benih konflik.”

“Agama manapun selama menjunjung tinggi kemanusiaan dan menebarkan kebajikan, pada hakikatnya adalah sama. Tidak ada agama yang lebih tinggi dari pada kebenaran.”

“Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya, sebab yang disebut agama itu sifatnya cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya.”

“Semua agama itu hanyalah beda dari aspek luarnya saja (eksoteris) tetapi dalam persoalan kebatinan (esoteris) pada dasarnya sama saja, satu Tuhan banyak jalan.”

“Praktik ibadah kita berbeda, tetapi menuju kepada tuhan yang sama dan tuhan kita yang sama hanya berbeda dari segi namanya saja. Ada yang mengatakan Allah dan ada yang mengatakan Yesus, Yahweh, Sang Hyang dan sebagainya.”

“Semua agama baik dan berguna dan tujuannya adalah sama yaitu kesempurnaan.

“Semua ummat beragama akan hidup berdampingan disurga. Jangan memonopoli surga untuk satu agama saja!”

“Agama adalah urusan batin dan tidak ada yang berhak mengaturnya termasuk Negara. Agama yang suci jika dicampuradukkan dengan sistem politik negara, maka kesuciannya akan luntur dan ternodai.”

Bagi mereka yang berkiprah dalam dunia akademik dan dunia pemikiran sampai forum-forum diskusi mahasiswa, pernyataan-pernyataan seperti ini memang tidaklah asing di telinga-telinga kita. Artikel-artikel dikoran dan komentar-komentar di dunia maya juga terkadang memunculkan argumen-argumen yang kurang lebih sama esensinya dengan pernyataan-pernyataan diatas.

Inilah yang dinamakan dengan Ideologi Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisasi). Orang-orang yang berideologi Sepilis inilah yang sangat gencar dalam menyebarkan paham-paham mereka dengan penyampaiannya yang ‘dibumbui’ dengan retorika akademisi. Nalar para pendengarnya mulai percaya seolah-olah dialah sang ‘Ratu Adil’ pembawa pesan-pesan humanisme dan perdamaian yang patut dicontoh dan menjadi model kita semua. Seketika pula, para pendengarnya seolah-olah disulap dan dicuci otaknya agar sependapat dengan para pengusung pemahaman Sepilis ini cukup dengan modal kata-kata yang ‘dibumbui’ dengan permainan cantik.

Paham-paham ini pada hakikatnya tidak hanya gencar dipropagandakan di masa sekarang. Bahkan, jauh sebelum masa pra-perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ucapan-ucapan diatas bahkan telah dipropagandakan diseluruh Indonesia oleh kaum theosof yang memperdalam ilmu kebatinan (Theosofi). Lantas, siapa sebenarnya kaum theosof ini? Mengapa dengan gencarnya mereka berusaha mempropagandakan paham mereka? Kepada siapa mereka tujukan propaganda mereka? Apa tujuan dibalik ucapan-ucapan mereka? Dan mengapa propaganda mereka masih terjadi sampai sekarang?

 Sejarah Singkat Mengenai Kemunculan Theosofi di Indonesia

“Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan di mana-mana. Tinggallah masalah waktu, agama-agama itu akan bertumbangan.”

– Protokol Zionis XVII

Semuanya berawal dari seorang wanita Yahudi, Helena Petrovna Blavatsky, dengan perjalanan dan pengembaraan spiritualnya tentang kearifan masa lalu (Ancient Wisdom) dan ajaran occultism (Ilmu Sihir) yang kedua-duanya merupakan peninggalan kaum Yahudi. Obsesinya akan peninggalan nenek moyangnya bahkan menuntunnya untuk berkunjung ke berbagai tempat seperti Mesir, Yerussalem, India dan bahkan pulau Jawa bersama dengan Annie Besant pada tahun 1853.

Dari perjalanannya itulah Blavatzsky mempelajari agama-agama lokal dan bertemu dengan beberapa tokoh-tokoh yang memiliki pemikiran yang sama seperti Henry S. Olcott dan Annie Besant yang pada akhirnya menjadi presiden International Theosophical Society dan dideklarasikan melalui konferensi di New York 1875. Tidak hanya itu, Blavatsky juga menulis berbagai buku untuk dijadikan sebagai kitab suci bagi International Teosophical Society sekaligus menjadi pedoman dalam praktik-parktik spiritual occultisme atau pemanggilan roh-roh di loji-loji (rumah peribadatan) para Mason.

Seiring dengan perkembangannya, gerakan ini semakin meluas ekspansinya dan sampai ke pemerintahan Turki Utsmani yang dalam perkembangannya disekulerkan oleh Mustafa Kemal at-Taturk dan pemerintah Hindia Belanda khususnya elit-elit pemerintahan yang berdarah Yahudi. Dengan mengemban misi perdamaian alias ‘misi netral agama’, tokoh-tokoh Hindia Belanda berupaya dalam membujuk beberapa tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Mohammad Hatta, Raden Ajeng Kartini, Pendiri Boedi Oetomo Trio Sarjana Kedokteran Dr. Soetomo, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan lain-lain. Bahkan, Ulama seperti Buya Hamka dan Agus Salim juga pernah dibujuk agar mengikuti kuliah Theosofi tersebut dan diminta menerjemahkan buku-buku Theosofi.

Pada masa itu, Loji-loji Freemason banyak dibangun di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Batavia (Jakarta), Bandung, Sukabumi, Mataram dan sebagainya. Bahkan, di Sulawesi Selatan, di Makassar juga ada loji Freemason yang bernama Loge Arbeit Wijker yang didirikan oleh Bro. Arbeit Wijker. Terlebih lagi, agar memperkuat propaganda para Theosof ini, beragam majallah-majallah berbasis Theosofi seperti Perwathin, De Swastika, Dyana dan Lotus mulai dicetak dan disebarkan ke masyarakat hingga Theosophical Society mampu mencetak kader sebanyak 800 lebih dari Indonesia yang terdiri dari ras Eropa, pribumi dan Tionghoa.

Selain itu, elit-elit Hindia Belanda juga sempat melakukan politik asimilasi. Melihat kondisi masyarakat Jawa pada masa itu yang masih kental dengan aliran kebatinan seperti tarekat. Maka diutuslah seorang elit Hindia Belanda bernama Labberton, untuk menyusup kedalam masyarakat Jawa tersebut lalu disampaikanlah mereka inti ajaran Theosofi yang seolah-olah sejalan dengan keyakinan mereka. Dengan modal kata-kata perdamaian dan humanisme dan sedikit permainan cantik, akhirnya ajaran Islam Abangan dengan Theosofi melahirkan Sinkretisme.

Politik asimilasi tidak hanya dilakukan terhadap masyarakat lokal, tetapi juga terhadap organisasi-organisasi kebangsaan seperti Jong Java dan Boedi Oetomo melalui diskusi dan kajian Theosofi. Syamsyurridjal yang saat itu menjadi anggota Jong Java bahkan memilih keluar dari Jong Java karena ditolaknya usul Syamsurridjal dalam revitalisasi kajian-kajian Islami seperti di periode awal berjalannya organisasi Jong Java. Hal ini jelas disebabkan oleh kecenderungannya Jong Java terhadap Theosofi. Kemudian, atas usulan Haji Agus Salim, Syamsurridjal bersama teman-temannya yang lain akhirnya Jong Islamieten Bond mulai berdiri pada tahun 1925 dengan basis oposisi terhadap pergerakan Theosofi dan pemurtadan di Indonesia dengan landasan Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 32 yang artinya sebagai berikut:

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai”

Meskipun pergerakan Theosofi ini sempat mendapat kecaman dari masyarakat dan bahkan Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres Nomor 264 Tahun 1962 tentang Pembubaran dan Pelarangan Vrijmetselarij atau Freemasonry, Pada tahun 2000, atau 33 tahun setelah Soekarno turun tahta, Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid mencabut Keppres nomor 264/1962 dan menggantinya dengan Keppres nomor 69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000. Sejak itu ketiga organisasi yang dilarang pada zaman Soekarno, kembali aktif di Indonesia. Begitupula dengan organisasi-organisasi Yahudi yang lain, seperti Liga Demokrasi, Rotary, Divine Life Society, dan Organisasi Baha’i, karena menjadi resmi dan sah untuk kembali eksis di Indonesia. Atas ‘jasa’ Gus Dur tersebut, akhirnya ia diberi penghargaan berupa Medal of Valor oleh pemerintah Israel.

Di era reformasi, perkembangan Theosofi bahkan mulai menyerang dan merasuki kaum Muslimin khususnya pada institusi-institusi dan organisasi keagamaan. Sehingga melencenglah pemikiran mereka dari pemikiran Islam murni yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Disinilah terjadi suatu proses dimana pemikir-pemikir Islam Liberal seperti Cak Nur (Nurcholis Majid), Ulil Abshar Abdallah dan beberapa tokoh Islam liberal di Indonesia melaksanakan liberalisasi Islam di Indonesia. Tak jarang, tulisan-tulisan Cak Nur juga dikaji secara rutin dihadapan banyak Mahasiswa dengan tema “Nurcholis Majid Memorial Lecture”. Salah satu kajiannya yang paling populer adalah “Satu Tuhan Banyak Jalan” yang acap kali menjadi senjata indoktrinisasi paham pluralisme di Indonesia. Makanya jangan heran ketika Hartono Ahmad Jaiz menulis buku yang berjudul “Ada Pemurtadan di IAIN”.

Mengapa Ghazwul Fikr (Perang Pemikiran) berupa Sepilis ini ditujukan kepada kaum Muslimin?

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka….” QS: Al-Baqarah: 2: 121

Ayat ini secara jelas memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa non-muslim dan muslim yang berideologi Theosof memusuhi Islam. Ghazwul Fikr memang telah ditakdirkan untuk menjadi salah satu agenda di akhir zaman yang penuh fitnah ini. Seandainya sudah tidak ada lagi diantara kaum Muslimin yang melakukan praktik-praktik yang berbau tasyabbuh (meniru) terhadap orang kafir, maka selama itulah ummat Islam akan terjajah dan musuh-musuh Islam akan senang akan hal itu. Berapapun banyaknya jumlah kaum Muslimin yang ada, mereka tidak akakan gentar melawan kaum Muslimin dan seperti yang dikatakan oleh Ust. Armen Halim Naro. Lc, Ummat Islam akan dibodoh-bodohkan seolah-olah Ummat Islam itu ‘nyata’ bodohnya.

Lanjut di Part 2….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *