Menyapa “Hidayah”

Si Fulan telah mendapatkan hidayah

Itulah kalimat yang paling sering terdengar ketika ada seorang non-muslim yang akhirnya memeluk agama Islam atau ketika seseorang yang meninggalkan perbuatan dosa dan mulai mengamalkan amalan-amalan shaleh.

Singkatnya, segala sesuatu yang mengubah orientasi kehidupan seseorang menjadi lebih baik kerap kali sesuatu itu dinamakan dengan hidayah.

Akan tetapi, ada beberapa pertanyaan yang mungkin patut diajukan, diantaranya adalah
“Sebenarnya apa hidayah itu?”
“Apakah hidayah itu sesederhana kalimat-kalimat yang biasa diutarakan tersebut?”
“Mengapa seolah-olah hidayah itu adalah bagian yang sangat esensial di dalam kehidupan kita?”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam QS. An-Nahl 18: 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا …

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun,

Dalam membahas hidayah, keterkaitan antara hidayah dan eksistensi kehidupan manusia adalah sesuatu yang perlu dipahami. Tidak diragukan lagi, manusia memang lahir dimuka bumi ini tanpa mengenal apa-apa. Lahirnya manusia di muka bumi ini diumpamakan seolah-olah manusia itu sedang berada diatas pesawat dan secara langsung diperintahkan untuk terjun dari atas pesawat tersebut tanpa mengetahui sama sekali tempat dimana ia terjun. Sudah sepatutnya disyukuri bahwa Allah yang maha pemberi yang telah menciptakan manusia sebab lahirnya manusia dimuka bumi ini tidaklah dengan kondisi yang hampa semata. Oleh karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala melanjutkan firmannya di dalam QS. An-Nahl 18: 78

… وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Dan Allah menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati agar kalian bersyukur

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan manusia 3 hal, yakni pendengaran, penglihatan dan hati. Maka dengan ketiga hal inilah manusia dituntut untuk menyapa sesuatu yang disebut sebagai hidayah itu.

Hidup di dunia ini memanglah sangat singkat dibandingkan kehidupan di tahapan kehidupan selanjutnya setelah ajal telah datang menjemput. Akan tetapi, meskipun kehidupan di dunia ini sangatlah singkat, pada hakikatnya, kehidupan di dunia inilah yang paling berat dan yang paling menentukan apakah di tahapan kehidupan selanjutnya kita layak untuk merasakan yang namanya kebahagiaan atau kesengsaraan.

Para ulama menjelaskan bahwa ketika seseorang tidak dapat terpenuhi kebutuhan fisiknya berupa kebutuhan pangan, maka akibat fatal yang bisa disebabkannya adalah kematian dan kematian yang dialaminya hanyalah sebatas kematian jasad. Di sisi lain, ketika seseorang tidak dapat terpenuhi kebutuhan spiritualnya yang berupa hidayah dan tiba-tiba ajal menjemputnya, maka kematiannya itu akan menjadi jauh lebih menakutkan dibandingkan kematian jasad sebab kematian yang dialaminya adalah kematian ruhiyah atau kematian dalam kondisi tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hatinya mati dan Ia tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendeskripsikan ciri-ciri orang yang termasuk kedalam golongan yang hatinya mati sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: Mereka itu adalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Tidak hanya itu, perihal dijadikannya surah Al-Fatihah sebagai rukun dalam sholat juga sangatlah berkaitan dengan esensi hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, di dalam surah Al-Fatihah terdapat doa yang selalu kita butuhkan selama kita hidup di dunia yang sangat singkat ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Q.S Al-Fatihah 1:6 :

 اهْدِنَالصِّرَاطَالْمُسْتَقِيمَا

Artinya: Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

(Pada dasarnya, kata ‘Ihdina’ dalam Q.S Al-Fatihah 1:6 dalam kajian ilmu Bahasa Arab memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘Hidayah’).

Kita menunaikan 17 raka’at di dalam sholat 5 waktu sebab pada setiap hembusan nafas kita, sangatlah dibutuhkan sesuatu yang dinamakan Hidayah itu. Bukanlah hidayah itu jika sebatas mengucapkan 2 kalimat syahadat dan mengaku telah memeluk Islam dan bukanlah namanya hidayah itu jika sekadar perubahan orientasi kehidupan seseorang dari seorang pendosa ke seorang yang pada akhirnya terlihat di masjid-masjid menunaikan kewajibannya sebagai Muslim. Akan tetapi, 17 raka’at di dalam sholat 5 waktu yang telah ditunaikan itu, kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah dalam meniti satu kebaikan demi kebaikan-kebaikan yang lainnya. Kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah dalam meninggalkan kemungkaran demi kemungkaran lainnya. Sudah sepatutnya seorang Muslim sadar, jika di dalam sholatnya mengucapkan ayat ini, maka ia hendaknya merenungi bahwa ia sedang memohon hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman di dalam Q.S Al-Baqarah 2:2 yang artinya:

   ذَلِكَ الْكِتَابُ لارَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Kitab ini (Al-Qur’an) tidak ada keraguan padanya; ‘hidayah’ bagi mereka yang bertakwa

(Kata ‘Hudaa’ dalam Bahasa Arab juga memiliki akar kata yang sama dengan ‘Hidayah’)

Akan tetapi, apakah kita telah yakin bahwa usaha kita dalam mencari hidayah itu sudah optimal? Seberapa jauh kita telah mendapatkan hidayah dari Al-Qur’an itu sendiri?

Seorang sahabat yang mulia yang bernama Utsman bin Affan Rodiallahu Anhu, di dalam Shirah Nabawiyah, diceritakan Beliau Rodiallahu Anhu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah sedang membaca Al-Qur’an. Beliau Rodiallahu Anhu bahkan selalu memeluk mushafnya sambil mengatakan “hadzaa kalamu robbiy (Inilah firman Tuhanku)”. Salah satu perkataan beliau yang sangat memukau adalah

لَوْطَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَا شَبِعْتُمْ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ

Artinya: Jika sekiranya hati-hati kalian suci, maka kalian akan selalu rindu untuk membaca Al-Qur’an.

Maka seharusnya kita merenungi hal ini, pantaskah kita mengakui diri-diri kita ini suci? sedangkan membaca Al-Qur’an selama 15 menit saja sudah mulai mengantuk dan bosan. Sesungguhnya, orang yang hatinya suci itu akan selalu gelisah memikirkan kapan lagi bisa ia membaca firman Allah nan agung itu ketika mereka hendak tidur, makan maupun ketika mereka sedang bekerja. Maka hadirkanlah perasaan itu di dalam hati-hati kita! Sebab dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an itulah kita bisa merasakan dan menikmati yang namanya hidayah.

Oleh karena itu, kita sebagai seorang Muslim marilah kita memohon agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah-Nya agar kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang tersesat dan pada akhirnya meninggal dalam keadaan Su’ul Khotimah

Wallahu A’lam

Penulis : Muhammad Afdal – Departemen Pengembangan dan Media Informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *