Realitas Unik Pada Kehidupan Sosial Masyarakat Muslim

[vc_column_text width=”1/1″ el_position=”first last”]

Terkadang, ada suatu pemandangan yang tak biasa terjadi ketika seseorang memperhatikan kehidupan sosial sekelompok orang. Contohnya saja, fenomena yang kerap kali terjadi dikalangan komunitas muslim ketika mereka bertemu di suatu tempat. Sepasang lelaki dengan ciri khas mengenakan kemeja, jenggot lebat dan celana di atas mata kaki, tiba-tiba menghampiri lelaki yang lainnya sambil mengucapkan salam dan berjabat tangan lalu saling memberi pelukan hangat. Mereka juga tidak jarang saling mengusapkan wajah atau pipi mereka dengan wajah-wajah muslim yang lain, jargon lokalnya dikenal dengan nama cipika-cipiki.

Hal ini tidak terjadi sekali saja, namun hampir di setiap kali mereka saling bertemu dengan muslim lainnya maupun sebelum mereka berpisah. Bagi beberapa orang, hal ini mungkin menjadi sesuatu yang aneh dan tidak sesuai dengan tradisi yang selama ini diyakini masyarakat luas. Persepsi tersebut terjadi sebab beberapa masyarakat meyakini bahwa kebiasaan ini umumnya berlaku pada kaum perempuan saja dan tidak berlaku pada laki-laki.

Bisa dibayangkan ketika sepasang laki-laki yang bertubuh tinggi, besar dan berotot saling mengusapkan wajah lalu berpelukan hangat dengan lelaki lainnya di hadapan publik atau sepasang lelaki berjalan di sepanjag koridor rumah sakit sambil berpegangan tangan tanpa henti. Tentunya, sebagian besar masyarakat akan melihat hal itu sebagai sesuatu yang tak lazim. Terlebih lagi, mereka akan menilai bahwa kedua lelaki ini kemungkinan besar sedang mengalami kelainan seksual.

Jika hal tersebut dianalisa secara ilmiah melalui pendekatan sosiologi, maka akan diketahui bahwa respon masyarakat tersebut merupakan fenomena sosial yang dikenal dengan istilah cultural lag atau cultural shock. Para sosiolog mendefinisikan cultural lag sebagai kondisi dimana suatu nilai budaya atau tradisi tidak dapat di terima oleh orang-orang tertentu sebab adanya kebuntuan di dalam usaha beradaptasi dan bersosialisasi. Kebuntuan tersebut disebabkan oleh nilai budaya lain yang terikat pada dirinya namun sulit diterima dengan lingkungan dimana ia beradaptasi dan bersosialisasi.

Ibaratnya, seorang warga Papua yang tinggal di wilayah terpelosok dipegunungan dan hanya mengenal transportasi hewan tunggangan saja lalu tiba-tiba ia dihadapkan dengan transportasi pesawat yang super canggih dan ia ditawarkan untuk naik diatas pesawat tersebut. Tentu pada kondisi ini akan terjadi, konflik budaya, bahkan pada kondisi yang paling parah boleh jadi orang-orang terpelosok ini menyamakan penggunaan transportasi pesawat dengan cara penggunaan hewan tunggangan.

Di beberapa wilayah terpelosok belahan dunia ini, hal serupa juga biasa terjadi. Ketika orang-orang pribumi pertama kali melihat sebuah helikopter maka mereka akan menganggap helikopter itu dewa atau semacam capung raksasa. Hal ini juga terjadi pada suku Indian di wilayah Amerika Latin. Ketika penjajah Spanyol datang dengan membawa teknologi yang jauh lebih maju dibandingkan orang-orang Indian, mereka mengira orang-orang Spanyol yang datang di Amerika apda masa itu sebagai dewa karena bagi mereka, orang-orang spanyol berpenampilan tidak lazim dan tidak terlihat seperti manusia bagi suku Indian.

Uniknya, di beberapa organisasi pramuka justru menggunakan “tradisi” kaum muslim yang tak lazim ini dalam proses orientasi dan pengaderan. Tidak hanya mengucapkan salam lewat mulut, setiap siswa juga diminta saling berjabat tangan dan cipika-cipiki setiap bertemu. Hal ini dipercaya mampu memperkuat proses kosolidasi siswa dan membantu siswa saling kenal-mengenal dengan siswa yang lain. Hal ini diakui kebenarannya oleh para psikolog dengan istilah “The Power of Touch” (kekuatan sentuhan).

James Coan, Ph.D, asisten dosen jurusan psikologi di University of Virginia, menemukan bahwa berpegangan tangan dengan orang lain tentu saja akan mempererat hubungan kita dengan orang tersebut. Bahkan, hal ini telah diteliti bahwa sentuhan dalam proses sosial ini mampu meredakan kadar stres dan syok anda akan sesuatu.

Para antropologis awalnya menilai bahwa proses konsolidasi yang paling kuat itu terjadi di kalangan perokok. Ketika seorang perokok bertemu dengan perokok lainnya, mereka terkadang saling menawarkan sebatang maupun sebungkus rokok satu sama lain. Kebiasaan ini telah menjadi tradisi dikalangan perokok dan hal ini juga menjadi faktor pendukung konsolidasi dinatara para perokok sekaligus menjadi kebiasaan yang menghubungkan perokok yang satu dan perokok yang lain. Masalahnya, sebagian besar masyarakat menilai bahwa merokok itu adalah hal yang berbau negatif.

Berbeda dengan proses konsolidasi yang terjadi diantara ummat muslim. Mereka senantiasa memberi salam maupun berjabat tangan ketika bertemu dan masyarakat menilai positif akan hal itu. Tidak jarang orang menganggap hal ini adalah tradisi ummat Islam, akan tetapi faktanya hal itu adalah ajaran agama mereka dan berdasar pada As-Sunnah. Lima kali sehari mereka menjalankan ibadah dan mereka terbiasa bersalaman dengan muslim lainnya disetiap selesai menunaikan shalat. Bagi orang tertentu, lima kali dalam sehari berjabat tangan dengan orang lain adalah jumlah yang tingkat keseringannya sudah tinggi. Hal ini tentu sangat berpengaruh bagi perkembangan kehidupan sosial ummat islam.

Bisakah dibayangkan berapa kali mereka bersalaman dengan muslim lainnya dalam satu tahun?

Bisakah dibayangkan jika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya setiap hari, berapa kali mereka melakukan sentuhan?

Kira-kira seberapa erat ikatan sosial mereka melalui sentuhan seperti ini?

Seperti itulah kondisi sosial masyarakat muslim, meskipun dinilai tak lazim tapi persaudaraan diantara mereka senantiasa terbangun secara otomatis.

Tidakkah kita bisa merenungi atau memahami keajaiban agama yang satu ini?

[/vc_column_text] [vc_text_separator title=”Muhammad Afdal – UKM LDK MPM UNHAS” title_align=”separator_align_center” width=”1/1″ el_position=”first last”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *